Profile

  • aa’ wirabumi
    aa’ wirabumi
    misterius dan bikin penasaran :D, kalau g’ mau penasaran add dan tanya langsung aja :D Tetap Sehat Tetap Semangat B-)

Tag





Ali radhiallahu anhu mengatakan, ada 4 momen kebaikan tertentu yang paling berat dilakukan. Yakni memaafkan ketika marah, berderma ketika pailit, menjaga diri dari dosa (iffah) ketika sendirian dan menyampaikan kebenaran padaorang yang ditakuti keburukannya atau diharapkan kebaikannya.
Saudaraku,
Renungkanlah. Momen-momen seperti itu sebenarnya yang sering menjadi celah rawan perampasan dan pencurian syetan. Sulit sekali kita memberi maaf ketika justru amarah seseorang meletup-letup dan dalam kondisi kita mampu melampiaskan amarah. Sulit sekali memberi, apapun, ketika kita sendiri sangat membutuhkannya. Sulit sekali memelihara diri dari dosa, bila kesempatan untuk melakukannya berulangkali terbuka lebar di depan mata kita, dan tidak ada orang lain yang mengetahui kita jika kita melakukannya. Lalu, seberapa mampu kita menyampaikan kebenaran pada orang yang kita takuti? Dan seberapa mampu kita menyampaikan kebenaran yang bisa menyakiti orang yang kita menanam harapan kepadanya? Itulah momen-momen yang sering membuat manusia tergelincir.
 
Saudaraku,
Ada satu kata yang sangat singkat untuk mengatasinya. Keikhlasan. Itu kuncinya. Keikhlasan membawa seseorang mudah memaafkan di kala marah. Ikhlas juga yang menjadikan seseorang ringan memberi meski ia membutuhkan. Ikhlas, yang membuat seseorang tak memandang situasi dalam beramal dan menjauhi maksiat, meski tak seorangpun melihat. Ikhlas juga yang membuat orang tak memandang risiko apapun dalam ia menyampaikankebenaran.
 
 
 
 
 
Berkat ikhlas, Rasulullah saw tercatat berhasil melewati momen-momen rawan tersebut. Rasul adalah sosok yang paling mudah memberi maaf, paling banyak memberi laksana angin, paling terpelihara dari penyimpangan di manapun, paling berani menyampaikan kebenaran pada siapapun. Benarlah ucapan Ibnul Jauzi rahimahullah, “Barangsiapa mengintip pahala (yang dituai karena keikhlasan), niscaya menjadi ringanlah tugas yang berat.” (Ar Raqa-iq, Muhammad Ahmad Rasyid)

Saudaraku,
Lihatlah wujud ketulusan dari keikhlasan lain yang dimiliki Ibnu Abbas. “Bila aku mendengar berita tentang hujan yang turun di suatu daerah, maka aku akan gembira meskipun aku di daerah itu tak mempunyai binatang ternak atau padang rumput. Bila aku membaca sesuatu ayat dari Kitabullah, maka aku ingin agar kaum muslimin semua memahami ayat itu seperti apa yang aku ketahui.”
Orang seperti Ibnu Abbas tak pernah memikirkan apa yang ia peroleh dari kebaikan yang ia lakukan. Ia cukup merasa bahagia, hanya dengan mendengar informasi kebaikan yang mungkin tidak terkait langsung dengan kepentingan pribadinya. Lebih dalam lagi keikhlasan yang diungkapkan oleh Imam Syafi’I, “Aku ingin kalau ilmu ini tersebar tanpa diketahui bila aku yang menyebarkannya….”
 
Saudaraku,
Dengan keikhlasan, kita jadi tak mudah diperdaya oleh nafsu. Dan itulah nikmat yang hanya dirasakan para mukhlisain. Seperti tertuang dalam nasihat Ibnul Qayyim, bahwa mengutamakan kelezatan iffah (menjaga diri dari perbuatan durhaka), lebih lezat daripada kelezatan maksiat. Dalam kesempatan lain ia mengatakan, “Rasa sakit (akibat azab Allah) yang ditimbulkan dari mengikuti hawa nafsu, lebih dahsyat daripada kelezatan sesaat yang dirasakan karena memperturutkan hawa nafsu.”Begitulah. Sampai akhirnya kita benar-benar mengerti dan meresapi perkataan salafusalih yang dikutip Syaikh Ahmad Muhammad Rasyid dalam Al Awa’iq, “Fi quwwati qahril hawa ladzah, taziidu alaa kulli ladzah.” Berusaha sekuat tenaga menekan hasa nafsu itu adalah kelezatan. Kelezatan yang berada di atas kelezatan…

(read more ...)





Des

28

hidup oh hidup, ini hidup, entah sejak kapan aku hidup. pastinya sejak tuhanku menghendaki aku hidup. Aku tak pernah meminta untuk hidup, tapi tiba tiba sudah kudapati diriku ini hidup, dan kujumpai begitu banyak , makhluk yang sama sepertiku dan yang tidak sama sepertiku, yang semuanya itu hidup. ada juga ini dan itu yang ada disekitarku yang tidak hidup. Tentulah yang kukenal sebagai Tuhan, yang menghendaki semua kehidupan ini. tak pernah kuminta, tapi nyatanya aku ada dan hidup. Aku tak punya pilihan selain tetap hidup, sampai mati, dan katanya akan hidup kembali, tanpa pernah mati. Aku percaya itu.
tetap menjalani hidup, meneruskan hidup, memilih pilihan pilihan, antara hidup semau diri sendiri yang bodoh ini, atau hidup mengikuti yang diinginkan Tuhan yang menjadikan hidup ini. menikmati hidup, berterimakasih kepada pemberi kehidupan, mengikuti apa yang diperintahkannya, tanpa protes, hidup dengan cita cita, jalan, cara, dan tujuan yang mulia, atas kehendak dan tuntunan Tuhan, berharap dan meminta agar tetap hidup dalam kebaikan dan penjagaa pencipta, kemudian mati dengan baik, dan mejalani kehidupan setelah mati tanpa siksaan, tetapi hidup dalam kesyukuran, keridhoan dan atas ridho pencipta dan pemilik hidupku, Tuhanku, Allah.
Annakku, mkhluk Allah yang ada di rahimku,…. selamat datang, di kehidupan. sebagaiman aku telah melaluinya dulu, kau akan mengalaminya, hidup, dan datang ke dunia. Aku akan menunggumu nak, mari kita hidup bersama, karena itu yang Allah kehendaki. Aku yang kotor ini, diperintahkan oleh Allah untuk menjagamu, merelakan rahimku yang diciptakannya, sebagai tempat bagi awal kehidupanmu.  Menjagamu agar kau tetap dalam fitrahmu, kesejatianmu sebagai ciptaanNya, hambNya,….
Anakku, aku menunggumu, menunggu saat ruhmu ditiupkan di dalam rahimku, menunggu saat kau lahir ke dunia dengan tangismu, itulah saat kesejatian hidup dimulai, aku akan belajar banyak darimu wahai manusia suci tannpa dosa…. aku menunggumu dengan bahagia, tapi aku juga pasti malu saat melihatmu nanti… betapa tidak telah banyak dosa dan kesalahan yang melumuriku, pantaskah aku memandang, menyentuh, merawatmu, bahkan mengajarimu tentang hidup, dan tentang TuhanMu,…..
 
 Ella Mardia
27 des 2010
 

(read more ...)



Des

28

menyiapkan hidup, kini dan nanti. untuk kita, dunia, dan anak cucu, disini, dan di manapun, di dunia dan akhirat

menyadari hidup ini bukanlah milik diri. hidup ini adalah anugrah, dan amanah. nikmat, yang juga tugas. hidup tidak hanya untuk dinikmati, tapi juga dituntaskan. agar tak menyesal saat kehidupan ini berakhir, agar tak merugi saat hidup ini harus dipertanggungjawabkan.

hidup tidak hanya sekarang, tapi hidup pasti habis waktunya. maka, bagaimanakah agar hidup berlanjut, dan dapat berakhir dengan indah, tuntas, dan dilepas dengan ikhlas. tapi tetap ada bekas hidup yang bisa dilanjutkan oleh orang orang yang kita tinggalkan, saat waktu hidup kita habis. bekas berupa manfaat ilmu yang produktif, mencerahkan, dan terus diturunkan. bekas berupa harta halal yang barokah yang membangun dunia, meski kita tak lagi hidup di dunia. bekas berupa anak anak yang sholeh, berkualitas, yang akan membesarkan dunia dengan kebenaran, kepandaian, dan amal yang membangun dunia atas kemenangan Islam. anak anak yang barokah yang lahir dari rahim dan tumbuh dari bibit kita, pun anak anak ideologis yang lahir dari didikan kita.

lalu mampukah kita hidup yang penuh perjuangan yang benar, konsisten, barokah saat dijalani, tuntas saat harus berakhir, dan berbekas saat ditinggalkan, dan akhirnya, kita bersyukur pad kehidupan akhirat atas rahmat Allah, dan nikmat hidup di dunia, yang berbuah manis di Surga. Jawabannya adalah pada apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita kerjakan pada setiap detiknya. karena, layaknya istana, yang disusun atas pasir, kerikil, hingga batu, juga ornament lain, ataupun gubuk yang tersusun atas puing dan papan, hidup ini tersusun atas setiap detik, dengan kualitas detik itu masing masing.

 

Ella Mardia

12 Oktober 2010

(read more ...)



Seperti seorang kekasih, selalu diharap-harap kedatangannya. Rasanya tak ingin berpisah sekalipun cuma sedetik. Begitulah Ramadhan seperti digambarkan sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, “Andaikan tiap hamba mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu tahun itu puasa terus.” Sesungguhnya, ada apanya di dalam Ramadhan itu, ikutilah berikut ini:

1. Gelar taqwa
Taqwa adalah gelar tertinggi yang dapat diraih manusia sebagai hamba Allah.
Tidak ada gelar yang lebih mulia dan tinggi dari itu. Maka setiap hamba yang telah mampu meraih gelar taqwa, ia dijamin hidupnya di surga dan diberi kemudahan-kemudahan di dunia. Dan puasa adalah sarana untuk mendapatkan gelar taqwa itu.
“Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS Al-Baqarah: 183)
Kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah kepada hambanya yang taqwa, antara lain:

a. Jalan keluar dari semua masalah
Kemampuan manusia amat terbatas, sementara persoalan yang dihadapi begitu banyak. Mulai dari masalah dirinya, anak, istri, saudara, orang tua, kantor dan sebagainya. Tapi bila orang itu taqwa, Allah akan menunjukkan jalan berbagai persoalan itu. Bagi Allah tidak ada yang sulit, karena Dialah
pemilik kehidupan ini.

“..Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath Thalaaq: 2)
“..Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath Thalaaq: 4)

b. Dicukupi kebutuhannya
“Dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. …”(QS. Ath Thalaaq: 3)

c. Ketenangan jiwa, tidak khawatir dan sedih hati
Bagaimana bisa bersedih hati, bila di dalam dadanya tersimpan Allah. Ia telah menggantungkan segala hidupnya kepada Pemilik kehidupan itu sendiri. Maka orang yang selalu mengingat-ingat Allah, ia bakal memperoleh ketenangan.

“Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-KU, maka barangsiapa bertaqwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. al-A’raaf: 35)

2. Bulan pengampunan
Tidak ada manusia tanpa dosa, sebaik apapun dia. Sebaik-baik manusia bukanlah yang tanpa dosa, sebab itu tidak mungkin. Manusia yang baik adalah yang paling sedikit dosanya, lalu bertobat dan berjanji tidak mengulangi perbuatan dosa itu lagi. Karena dosa manusia itu setumpuk, maka Allah telah menyediakan alat penghapus yang canggih. Itulah puasa pada bulan Ramadhan.Beberapa hadis menyatakan demikian, salah satunya diriwayatkan Bukhari Muslim dan Abu Dawud, “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanannya dan karena mengharap ridha Allah, maka dosa-dosa sebelumnya diampuni.”

3. Pahalanya dilipatgandakan
Tidak hanya pengampunan dosa, Allah juga telah menyediakan bonus pahala berlipat-lipat kepada siapapun yang berbuat baik pada bulan mulia ini. Rasulullah bersabda, “Setiap amal anak keturunan Adam dilipatgandakan. Tiap satu kebaikan sepuluh lipat gandanya hingga tujuh ratus lipat gandanya.”
(HR. Bukhari Muslim).
Bahkan amalan-amalan sunnah yang dikerjakan pada Ramadhan, pahalanya dianggap sama dengan mengerjakan amalan wajib (HR. Bahaiqi dan Ibnu Khuzaimah). Maka perbanyaklah amal dan ibadah, mumpung Allah menggelar obral pahala.

4. Pintu surga dibuka dan neraka ditutup
“Kalau datang bulan Ramadhan terbuka pintu surga, tertutup pintu neraka, dan setan-setan terbelenggu. “(HR Muslim) Kenapa pintu surga terbuka? Karena sedikit saja amal perbuatan yang dilakukan, bisa mengantar seseorang ke surga. Boleh diibaratkan, bulan puasa itu bulan obral. Orang yang tidak membeli akan merugi. Amal sedikit saja dilipatgandakan ganjarannya sedemikian banyak. Obral ganjaran itu untuk mendorong orang melakukan amal-amal kebaikan di bulan Ramadhan. Dengan demikian otomatis pintu neraka tertutup dan tidak ada lagi kesempatan buat setan menggoda manusia.

5. Ibadah istimewa
Keistimewaan puasa ini dikatakan Allah lewat hadis qudsinya, “Setiap amalan anak Adam itu untuk dirinya, kecuali puasa. Itu milik-Ku dan Aku yang membalasnya karena ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.” (HR Bukhari Muslim) Menurut Quraish Shihab, ahli tafsir kondang dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, puasa dikatakan untuk Allah dalam arti untuk meneladani sifat-sifat Allah. Itulah subtansi puasa.

Misalnya, dalam bidang jasmani, kita tahu Tuhan tidak beristri. Jadi ketika berpuasa dia tidak boleh melakukan hubungan seks. Allah tidak makan, tapi memberi makan. Itu diteladani, maka ketika berpuasa kita tidak makan, tapi kita memberi makan. Kita dianjurkan untuk mengajak orang berbuka puasa. Ini tahap dasar meneladani Allah.

Masih ada tahap lain yang lebih tinggi dari sekedar itu. Maha Pemurah adalah salah satu sifat Tuhan yang seharusnya juga kita teladani. Maka dalam berpuasa, kita dianjurkan banyak bersedekah dan berbuat kebaikan. Tuhan Maha Mengetahui. Maka dalam berpuasa, kita harus banyak belajar. Belajar bisa lewat membaca al-Qur’an, membaca kitab-kitab yang bermanfaat, meningkatkan pengetahuan ilmiah.

Allah swt setiap saat sibuk mengurus makhluk-Nya. Dia bukan hanya mengurus manusia. Dia juga mengurus binatang. Dia mengurus semut. Dia mengurus rumput-rumput yang bergoyang. Manusia yang berpuasa meneladani Tuhan dalam sifat-sifat ini, sehingga dia harus selalu dalam kesibukan.

Perlu ditekankan meneladani Tuhan itu sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia. Kita tidak mampu untuk tidak tidur sepanjang malam, tidurlah secukupnya. Kita tidak mampu untuk terus-menerus tidak makan dan tidak minum. Kalau begitu, tidak makan dan tidak minum cukup sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari saja.

6. Dicintai Allah
Nah, sesesorang yang meneladani Allah sehingga dia dekat kepada-Nya. Bila sudah dekat, minta apa saja akan mudah dikabulkan. Bila Allah telah mencintai hambanya, dilukiskan dalam satu hadis Qudsi, “Kalau Aku telah mencintai seseorang, Aku menjadi pendengaran untuk telinganya, menjadi penglihatan untuk matanya, menjadi pegangan untuk tangannya, menjadi langkah untuk kakinya.” (HR Bukhari)

7. Do’a dikabulkan
“Dan apabila hamba-hamba- Ku bertanya kepadamu tentang Aku, katakanlah bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang berdo’a apabila dia berdo’a, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku. ” (QS. al-Baqarah: 186)
Memperhatikan redaksi kalimat ayat di atas, berarti ada orang berdo’a tapi sebenarnya tidak berdo’a. Yaitu do’anya orang-orang yang tidak memenuhi syarat. Apa syaratnya? “maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku. ”

Benar, berdo’a pada Ramadhan punya tempat khusus, seperti dikatakan Nabi saw, “Tiga do’a yang tidak ditolak; orang berpuasa hingga berbuka puasa, pemimpin yang adil dan do’anya orang teraniaya. Allah mengangkat do’anya ke awan dan membukakan pintu-pintu langit. ‘Demi kebesaranKu, engkau pasti Aku tolong meski tidak sekarang.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Namun harus diingat bahwa segala makanan yang kita makan, kesucian pakaian, kesucian tempat, itu punya hubungan yang erat dengan pengabulan do’a. Nabi pernah bersabda, ada seorang yang sudah kumuh pakaiannya, kusut rambutnya berdo’a kepada Tuhan. Sebenarnya keadaannya yang kumuh itu bisa mengantarkan do’anya dia diterima. Tapi kalau makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya yang dipakainya terambil dari barang yang haram, bagaimana bisa dikabulkan doa’nya?

Jadi do’a itu berkaitan erat dengan kesucian jiwa, pakaian dan makanan. Di bulan Ramadhan jiwa kita diasah hingga bersih. Semakin bersih jiwa kita, semakin tulus kita, semakin bersih tempat, pakaian dan makanan, semakin besar kemungkinan untuk dikabulkan do’a.

8. Turunnya Lailatul Qodar
Pada bulan Ramadhan Allah menurunkan satu malam yang sangat mulia. Saking mulianya Allah menggambarkan malam itu nilainya lebih dari seribu bulan (QS. Al-Qadr). Dikatakan mulia, pertama lantaran malam itulah awal al-Qur’an diturunkan. Kedua, begitu banyak anugerah Allah dijatuhkan pada malam itu. Beberapa hadits shahih meriwayatkan malam laulatul qodar itu jatuh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Seperti dirawikan Imam Ahmad, “Lailatul qadar adalah di akhir bulan Ramadhan tepatnya di sepuluh malam terakhir, malam keduapuluh satu atau duapuluh tiga atau duapuluh lima atau duapuluh tujuh atau duapuluh sembilan atau akhir malam Ramadhan. Barangsiapa
mengerjakan qiyamullail (shalat malam) pada malam tersebut karena mengharap ridha-Ku, maka diampuni dosanya yang lampau atau yang akan datang.”

Mengapa ditaruh diakhir Ramadhan, bukan pada awal Ramadhan? Rupanya karena dua puluh malam sebelumnya kita mengasah dan mengasuh jiwa kita. Itu adalah suatu persiapan untuk menyambut lailatul qodar.

Ada dua tanda lailatul qadar. Al Qur’an menyatakan, “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan/ kedamaian sampai terbit fajar. (QS al-Qadr: 4-5)

Malaikat bersifat gaib, kecuali bila berubah bentuk menjadi manusia. Tapi kehadiran malaikat dapat dirasakan. Syekh Muhammad Abduh menggambarkan, “Kalau Anda menemukan sesuatu yang sangat berharga, di dalam hati Anda akan tercetus suatu bisikan, ‘Ambil barang itu!’ Ada bisikan lain berkata, ‘Jangan ambil, itu bukan milikmu!’ Bisikan pertama adalah bisikan setan. Bisikan kedua adalah bisikan malaikat.” Dengan demikian, bisikan malaikat selalu mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal positif. Jadi kalau ada seseorang yang dari hari demi hari sisi kebajikan dan positifnya terus bertambah, maka yakinlah bahwa ia telah bertemu dengan lailatul qodar.

9. Meningkatkan kesehatan
Sudah banyak terbukti bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya, dengan puasa maka organ-organ pencernaan dapat istirahat. Pada hari biasa alat-alat pencernaan di dalam tubuh bekerja keras. Setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh memerlukan proses pencernaan kurang lebih delapan jam. Empat jam diproses di dalam lambung dan empat jam di usus kecil (ileum). Jika malam sahur dilakukan pada pukul 04.00 pagi, berarti pukul 12 siang alat pencernaan selesai bekerja. Dari pukul 12 siang sampai waktu berbuka, kurang lebih selama enam jam, alat pencernaan mengalami istirahat total.

Meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli kesehatan, ternyata dengan berpuasa sel darah putih meningkat dengan pesat sekali. Penambahan jumlah sel darah putih secara otomatis akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Menghambat perkembangan atau pertumbuhan bakteri, virus dan sel kanker. Dalam tubuh manusia terdapat parasit-parasit yang menumpang makan dan minum. Dengan menghentikan pemasukan makanan, maka kuman-kuman penyakit seperti bakteri-bakteri dan sel-sel kanker tidak akan bisa bertahan hidup. Mereka akan keluar melalui cairan tubuh bersama sel-sel yang telah mati dan toksin.

Manfaat puasa yang lain adalah membersihkan tubuh dari racun kotoran dan ampas, mempercepat regenasi kulit, menciptakan keseimbangan elektrolit di dalam lambung, memperbaiki fungsi hormon, meningkatkan fungsi organ reproduksi, meremajakan atau mempercepat regenerasi sel-sel tubuh, meningkatkan fungsi fisiologis organ tubuh, dan meningkatkan fungsi susunan syaraf.

10. Penuh harapan
Saat berpuasa, ada sesuatu yang diharap-harap. Harapan itu kian besar menjelang sore. Sehari penuh menahan lapar dan minum, lalu datang waktu buka, wah… rasanya lega sekali. Alhamdulillah. Itulah harapan yang terkabul. Apalagi harapan bertemu Tuhan, masya’ Allah, menjadikan hidup lebih bermakna. “Setiap orang berpuasa selalu mendapat dua kegembiraan, yaitu tatkala berbuka puasa dan saat bertemu dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari).

11. Masuk surga melalui pintu khusus, Rayyan
“Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut rayyan yang akan dilewati oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat nanti, tidak diperbolehkan seseorang melewatinya selain mereka. Ketika mereka dipanggil, mereka akan segera bangkit dan masuk semuanya kemudian ditutup.” (HR.
Bukhari)

Minum air telaganya Rasulullah saw :
“Barangsiapa pada bulan Ramadhan memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka itu menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, dan mendapat pahala yang sama tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang lain. Mereka (para sahabat) berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidak setiap kami mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa.’ Beliau berkata, ‘Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi buka puasa meski dengan sebutir kurma, seteguk air, atau sesisip susu…Barangsiapa memberi minum orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya minum seteguk dari telagak dimana ia tidak akan haus hingga masuk surga.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi)

12. Berkumpul dengan sanak keluarga
Pada tanggal 1 Syawal ummat Islam merayakan Hari Raya Idhul Fitri. Inilah hari kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu dan syetan selama bulan Ramadhan. Di Indonesia punya tradisi khusus untuk merayakan hari bahagia itu yang disebut Lebaran. Saat itu orang ramai melakukan silahtuhrahim dan saling memaafkan satu dengan yang lain. Termasuk kerabat-kerabat jauh datang berkumpul. Orang-orang yang bekerja di kota-kota pulang untuk merayakan lebaran di kampung bersama kedua orang tuanya. Maka setiap hari Raya selalu terjadi pemandangan khas, yaitu orang berduyun-duyun dan berjubel-jubel naik kendaraan mudik ke kampung halaman. Silahturahim dan saling memaafkan itu menurut ajaran Islam bisa berlangsung kapan saja. Tidak mesti pada Hari Raya. Tetapi itu juga tidak dilarang. Justru itu momentum bagus. Mungkin, pada hari biasa kita sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak sempat lagi menjalin hubungan dengan tetangga dan saudara yang lain. Padahal silahturahim itu
dianjurkan Islam, sebagaimana dinyatakan hadis, “Siapa yang ingin rezekinya dibanyakkan dan umurnya dipanjangkan, hendaklah ia menghubungkan tali silaturahmi! ” (HR. Bukhari)

13. Qaulan Tsaqiilaa
Pada malam Ramadhan ditekankan (disunnahkan) untuk melakukan shalat malam dan tadarus al-Qur’an. Waktu paling baik menunaikan shalat malam sesungguhnya seperdua atau sepertiga malam terakhir (QS Al Muzzammil: 3). Tetapi demi kesemarakan syiar Islam pada Ramadhan ulama membolehkan melakukan terawih pada awal malam setelah shalat isya’ dengan berjamaah di masjid. Shalat ini populer disebut shalat tarawih. Shalat malam itu merupakan peneguhan jiwa, setelah siangnya sang jiwa dibersihkan dari nafsu-nafsu kotor lainnya. Ditekankan pula usai shalat malam untuk membaca Kitab Suci al-Qur’an secara tartil (memahami maknanya). Dengan membaca Kitab Suci itu seseorang bakal mendapat wawasan-wawasan yang luas dan mendalam, karena al-Qur’an memang sumber pengetahuan dan ilham.

Dengan keteguhan jiwa dan wawasan yang luas itulah Allah kemudian mengaruniai qaulan tsaqiilaa (perkataan yang berat). Perkataan-perkataan yang berbobot dan berwibawa. Ucapan-ucapannya selalu berisi kebenaran. Maka orang-orang yang suka melakukan shalat malam wajahnya bakal memancarkan kewibawaan.

14. Hartanya tersucikan
Setiap Muslim yang mampu pada setiap Ramadhan diwajibkan mengeluarkan zakat.
Ada dua zakat, yaitu fitrah dan maal. Zakat fitrah besarnya 2,5 kilogram per orang berupa bahan-bahan makanan pokok. Sedangkan zakat maal besarnya 2,5 persen dari seluruh kekayaannya bila sudah mencapai batas nisab dan waktunya. Zakat disamping dimaksudkan untuk menolong fakir miskin, juga guna mensucikan hartanya. Harta yang telah disucikan bakal mendatangkan barakah dan menghindarkan pemiliknya dari siksa api neraka. Harta yang barakah akan mendatangkan ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan. Sebaliknya, harta yang tidak barakah akan mengundang kekhawatiran dan ketidaksejahteraan.

(read more ...)



Sekelompok anak kecil sedang bermain di dekat dua jalur kereta api. Jalur

yang pertama adalah jalur aktif (masih sering dilewati KA), sementara jalur

kedua sudah tidak aktif. Hanya seorang anak yang bermain di jalur yang

tidak aktif (tidak pernah lagi dilewati KA), sementara lainnya bermain di

jalur KA yang masih aktif.



Tiba-tiba terlihat ada kereta api yang mendekat dengan kecepatan tinggi.

Kebetulan Anda berada di depan panel persimpangan yang mengatur arah KA

tersebut. Apakah Anda akan memindahkan arah KA tersebut ke jalur yang sudah

 

 



tidak aktif dan menyelamatkan sebagian besar anak kecil yang sedang

bermain. Namun hal ini berarti Anda mengorbankan seorang anak yang sedang

bermain di jalur KA yang tidak aktif. Atau Anda akan membiarkan kereta

tersebut tetap berada di jalur yang seharusnya?



Mari berhenti sejenak dan berpikir keputusan apa yang sebaiknya kita ambil



Sebagian besar orang akan memilih untuk memindahkan arah kereta dan hanya

mengorbankan jiwa seorang anak. Anda mungkin memiliki pilihan yang sama

karena dengan menyelamatkan sebagian besar anak dan hanya kehilangan

seorang anak adalah sebuah keputusan yang rasional dan dapat disyahkan baik

secara moral maupun emosional.



Namun sadarkah Anda bahwa anak yang memilih untuk bermain di jalur KA yang

sudah tidak aktif, berada di pihak yang benar karena telah memilih untuk

bermain di tempat yang aman? Disamping itu, dia harus dikorbankan justru

karena kecerobohan teman-temannya yang bermain di tempat berbahaya.



Dilema semacam ini terjadi di sekitar kita setiap hari. Di kantor, di

masyarakat, di dunia politik dan terutama dalam kehidupan demokrasi, pihak

minoritas harus dikorbankan demi kepentingan mayoritas. Tidak peduli betapa

bodoh dan cerobohnya pihak mayoritas tersebut. Nyawa seorang anak yang

memilih untuk tidak bermain bersama teman-temannya di jalur KA yang

berbahaya telah dikesampingkan. Dan bahkan mungkin tidak kita tidak akan

menyesalkan kejadian tersebut.



Seorang teman yang men-forward cerita ini berpendapat bahwa dia tidak akan

mengubah arah laju kereta karena dia percaya anak-anak yang bermain di

jalur KA yang masih aktif sangat sadar bahwa jalur tersebut masih aktif.

Akibatnya mereka akan segera lari ketika mendengar suara kereta mendekat.

Jika arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif maka seorang anak

yang sedang bermain di jalur tersebut pasti akan tewas karena dia tidak

pernah berpikir bahwa kereta akan menuju jalur tersebut. Disamping itu,

alasan sebuah jalur KA dinonaktifkan kemungkinan karena jalur tersebut

sudah tidak aman. Bila arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif

maka kita telah membahayakan nyawa seluruh penumpang di dalam kereta. Dan

mungkin langkah yang telah ditempuh untuk menyelamatkan sekumpulan anak

dengan mengorbankan seorang anak, akan mengorbankan lagi ratusan nyawa

penumpang di kereta tersebut.



Kita harus sadar bahwa HIDUP penuh dengan keputusan sulit yang harus

dibuat. Dan mungkin kita tidak akan menyadari bahwa sebuah keputusan yang

cepat tidak selalu menjadi keputusan yang benar. "Ingatlah bahwa sesuatu

yang benar tidak selalu populer dan sesuatu yang populer tidak selalu

benar".


 

 
(read more ...)